PERHATIAN

BCA tidak memungut biaya apapun selama proses pendaftaran dan seleksi karir berlangsung.

ARTIKEL

Overthingking di Tengah Proses Bertumbuh

22 May 2026

Friends, pernah gak sih kalian merasa semakin banyak hal yang ingin dicapai, semakin banyak juga pertanyaan yang muncul di kepala. “Kalau gagal gimana?”, “Aku telat gak ya dibanding orang lain?”, atau bahkan “Aku sebenarnya cukup capable gak sih?”. Ironisnya, saat kita sedang berusaha menjadi versi diri yang lebih baik, kita justru sering merasa paling tidak tenang.

Yup, yang sedang kamu alami ini biasa disebut sebagai ‘overthinking’ atau ruminasi. Dimana menurut Susan Nolen-Hoeksema, ini adalah kondisi ketika seseorang terus memikirkan kekhawatiran secara berulang tanpa sampai pada solusi yang jelas. Akibatnya, energi mental habis untuk memikirkan kemungkinan, bukan mengambil tindakan. Kita jadi mudah merasa tertinggal, takut memulai, bahkan meragukan kemampuan diri sendiri.

Overthinking muncul bukan karena kita lemah, melainkan karena kita sedang berada di fase bertumbuh. Saat seseorang mencoba hal baru, mengambil tanggung jawab lebih besar, atau keluar dari zona nyaman, otak akan bekerja lebih aktif untuk memprediksi risiko dan kemungkinan terburuk. Secara psikologis, hal ini merupakan respons alami manusia untuk melindungi diri dari kegagalan atau rasa tidak aman. Jadi sebenarnya, overthinking bukan musuh sepenuhnya. Dalam kadar tertentu, ia muncul karena kita peduli terhadap masa depan dan ingin melakukan yang terbaik.

Namun masalahnya, ketika pikiran terus berputar tanpa arah, overthinking justru membuat kita sulit bergerak. 

Karena itu, penting untuk menyadari bahwa berkembang tidak selalu harus berjalan cepat. Tidak semua orang memiliki titik mulai, tantangan, dan proses belajar yang sama. Ada orang yang terlihat melaju lebih cepat karena memang jalurnya berbeda. Sementara kita mungkin sedang ada di fase belajar, beradaptasi, atau bahkan sekadar bertahan. Dan itu bukan berarti kita gagal.

Salah satu cara untuk mengurangi overthinking adalah dengan memfokuskan energi pada hal-hal yang benar-benar bisa kita kendalikan. Misalnya, menyelesaikan satu pekerjaan dengan baik, belajar satu hal baru setiap hari, atau memberi waktu istirahat ketika tubuh dan pikiran mulai lelah. Hal-hal kecil seperti itu sering terlihat sederhana, padahal justru menjadi fondasi penting dalam proses berkembang yang sehat.

Selain itu, kita juga perlu lebih bijak dalam mengonsumsi media sosial. Tidak semua yang terlihat di layar menunjukkan realita sepenuhnya. Orang cenderung membagikan hasil akhirnya, bukan proses bingung, gagal, atau lelah yang mereka alami di belakang layar. Jadi kalau hari ini hidup kita terasa “biasa saja”, bukan berarti kita kalah. Bisa jadi, kita hanya sedang menjalani proses yang memang tidak selalu perlu dipamerkan.

Pada akhirnya, overthinking adalah bagian yang cukup manusiawi dalam proses bertumbuh. Keinginan untuk berkembang dan memberikan yang terbaik memang sering membuat pikiran terasa lebih penuh. Namun, bertumbuh bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap mau berjalan meski dihantui rasa takut dan keraguan.

Di lingkungan kerja seperti BCA, overthinking juga bisa muncul saat menghadapi tantangan baru, target pekerjaan, maupun proses adaptasi. Namun, budaya belajar dan dukungan dari rekan kerja membantu kita memahami bahwa setiap orang sedang berkembang dalam ritmenya masing-masing. Dari situ, kita belajar bahwa menjadi lebih baik tidak harus selalu sempurna. Kadang, progres kecil yang konsisten justru jauh lebih berarti daripada terus memaksa diri untuk terlihat “selalu berhasil”.

Artikel Lainnya

Cari Karir