PERHATIAN

BCA tidak memungut biaya apapun selama proses pendaftaran dan seleksi karir berlangsung.

ARTIKEL

Mengapa Kita Sering Menunda? Ngulik Prokrastinasi Lewat Self-Regulation Theory

27 March 2026

“Besok aja deh.”

Kedengarannya sepele, ya Friends? Meskipun begitu, kebiasaan ini nyatanya dapat menimbulkan dampak serius mulai dari terlewatnya deadline pekerjaan, hingga peningkatan stres dan rasa bersalah karena ketidakmampuan menyelesaikan beban tugas yang telah dipercayakan. Fenomena yang dikenal dengan sebutan prokrastinasi oleh Piers Steel (2007) ini, didefinisikan sebagai tindakan menunda secara sukarela meskipun tahu konsekuensi negatifnya. 

Artinya, ini bukan sekadar masalah “ngatur waktu yang jelek”, tapi lebih ke masalah ngatur diri sendiri (self-regulation).

Dalam self-regulation theory, idealnya seseorang melalui tahapan seperti menetapkan tujuan, menyusun strategi, mulai bertindak, hingga melakukan evaluasi. Namun dalam praktiknya, banyak yang berhenti di tahap "niat". Kita sudah tahu apa yang perlu dilakukan, tetapi tetap kesulitan untuk memulai. Kesenjangan antara niat dan tindakan inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab utama munculnya prokrastinasi.

Salah satu pendekatan yang menjelaskan fenomena ini adalah Temporal Motivation Theory (TMT) yang dikembangkan oleh Piers Steel. Teori ini menyebutkan bahwa motivasi dipengaruhi oleh empat faktor utama:

1. Harapan (Expectancy)
Ketika kita merasa tidak yakin dengan kemampuan diri, kecenderungan untuk menunda akan meningkat. Semakin rendah kepercayaan diri, semakin sulit untuk memulai.

2. Nilai (Value)
Tugas yang dianggap tidak menarik atau membosankan cenderung dihindari. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena kurangnya ketertarikan.

3. Waktu (Delay)
Otak manusia cenderung lebih menghargai kesenangan instan dibandingkan manfaat jangka panjang. Akibatnya, aktivitas seperti membuka media sosial terasa lebih menarik dibandingkan menyelesaikan pekerjaan.

4. Impulsivitas (Impulsiveness)
Semakin mudah seseorang terdistraksi, semakin besar kemungkinan ia menunda. Gangguan kecil seperti notifikasi dapat dengan cepat mengalihkan fokus.

Berdasarkan self-regulation theory, kebiasaan menunda pekerjaan berakar pada kurang optimalnya kemampuan mengelola diri. Motivasi sering kali kalah oleh distraksi, sementara dorongan emosional jangka pendek lebih dominan dibandingkan fokus pada tujuan jangka panjang. Hal ini diperkuat oleh kecenderungan memilih kepuasan instan, rendahnya keyakinan diri, serta persepsi bahwa tugas kurang menarik. Namun, karena prokrastinasi merupakan bagian dari self-regulation, kebiasaan ini dapat diperbaiki. 

Coba beberapa cara ini biar nggak terus bilang “nanti aja” Friends:

  • Mulai dari yang kecil
    Jangan langsung mikir kerjaan besar. Mulai aja dari bagian paling gampang biar kebangun momentum.
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman
    Meja rapi, distraksi dikurangin biar lebih gampang masuk mode fokus.
  • Ingat lagi tujuan kamu
    Kalau lagi kehilangan semangat, coba pause sebentar dan ingat kenapa kerjaan ini penting.
  • Pakai to-do list
    Tulis tugas dan urutin dari yang paling prioritas biar kerjaan lebih terarah.
  • Kerjain yang paling berat dulu
    Biar beban utama cepat beres, sisanya jadi terasa lebih ringan.
  • Istirahat secukupnya
    Ambil jeda 5-10 menit biar otak nggak overheat dan bisa fokus lagi.
  • Kasih reward ke diri sendiri
    Hal kecil kayak camilan favorit juga bisa jadi motivasi tambahan, lho

Di BCA, produktivitas tidak hanya diukur dari terselesaikannya pekerjaan, tetapi juga sebagai bagian dari komitmen untuk memberikan layanan terbaik. Hal ini sejalan dengan nilai kedisiplinan dan profesionalisme yang dijunjung tinggi. Mengatasi prokrastinasi memang bukan proses instan. Namun, setiap langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang berarti baik bagi diri sendiri, tim, maupun perusahaan.

Artikel Lainnya

Cari Karir