BCA tidak memungut biaya apapun selama proses pendaftaran dan seleksi karir berlangsung.
02 July 2026
Friends, pernahkah kalian mendengar kalimat, “Uang bisa dicari lagi, masa muda nggak bisa diulang”?
Kalimat ini sering muncul saat seseorang memutuskan untuk belanja impulsif, membeli tiket konser, mengganti gadget, atau berangkat liburan secara spontan. Alasannya sederhana: mumpung masih muda, jangan sampai ketinggalan momen. Pola pikir seperti ini lekat dengan fenomena FOMO (Fear of Missing Out).
Di sisi lain, kita juga tumbuh dengan nasihat, “Rajin menabung pangkal kaya.”
Tak heran jika banyak anak muda merasa berada di antara dua pilihan: menikmati hasil kerja keras saat ini atau menyisihkannya demi masa depan. Terlalu fokus menabung kadang membuat kita merasa melewatkan banyak pengalaman. Sebaliknya, jika terlalu mengikuti keinginan sesaat, muncul kekhawatiran apakah kondisi finansial di masa depan akan tetap aman.
Lalu, apakah kita harus memilih salah satunya?
Sebagai anak muda, Friends mungkin sering dihadapkan pada pilihan yang serba salah. Kalau terlalu FOMO takut kondisi finansial berantakan, tapi kalau terlalu keras menabung juga takut kehilangan masa muda. Dilema inilah yang menciptakan dua sudut pandang:
Menjadi FOMO - membuat kita jadi tidak siap saat ada kebutuhan mendadak. Pusing soal finansial biasanya bukan karena jumlah pemasukannya yang sedikit, melainkan karena kita sendiri yang kehilangan kendali atas pengeluaran tersebut.
Di sisi lain terlalu keras menabung - terkadang terasa seperti menunda kebahagiaan hingga muncul pikiran, "Kapan bisa menikmati hasil kerja keras sendiri?"
Sebenarnya FOMO dan menabung bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan selama Friends mampu menentukan prioritas dengan bijak. Nah, cara terbaik untuk menentukannya adalah dengan menemukan ritme keuanganmu sendiri, salah satunya melalui rumus alokasi anggaran.
Salah satu metode populer yang bisa dicoba adalah rumus 50/30/20:
50% penghasilan untuk kebutuhan primer (sewa, makan, tagihan, dsb).
Hal utama yang wajib dipenuhi dulu, yang membuat kita tidak bisa beraktivitas dengan baik kalau kebutuhan ini belum terpenuhi.
30% penghasilan untuk keinginan pribadi (hiburan, hobi, self-reward, dsb).
Uang jajan untuk menikmati masa muda dan self-reward tanpa perlu merasa bersalah.
20% penghasilan untuk tabungan & investasi (dana darurat, tabungan dan investasi).
Harus seimbang, tabungan tetap harus dicicil, sebagai dana saat kondisi darurat atau menabung untuk masa depan.
Catatan: proporsi ini fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan unik individu masing-masing.
Setelah mengetahui cara membagi anggaran dengan rumus 50/30/20, langkah berikutnya adalah menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Berikut empat langkah praktis yang bisa mulai kamu lakukan.
Sisihkan tabungan atau future savings di awal, bukan di akhir. Begitu menerima penghasilan, langsung potong alokasi tabungan masa depan agar tidak habis untuk hal konsumtif.
Siapkan emergency fund di untuk kondisi darurat. Langsung sisihkan dana darurat di awal bulan agar kamu selalu siap dan aman saat ada kebutuhan yang tiba-tiba datang.
Punya anggaran khusus sebagai self reward. Menikmati hasil kerja keras itu valid. Selama biayanya tidak melebihi dari pos keinginan, kamu bisa bersenang-senang tanpa rasa bersalah.
Bedakan "ingin" dan "butuh" untuk fokus pada pengalaman bermakna. Sebelum checkout, bedakan mana kebutuhan dan mana yang cuma lapar mata demi gengsi. Lebih baik dialokasikan untuk hal yang memberi memori dan kebahagiaan nyata buat dirimu, bukan sekadar biar kelihatan keren di mata orang lain.
Ingat, Friends, menjaga saldo rekening tetap stabil sambil menikmati masa muda itu bisa banget diwujudin. Kuncinya ada pada konsistensi mengelola alokasi anggaran agar tidak terjebak FOMO.