Berita & Artikel

Posted on: 23-07-2018

Di Balik Kesuksesan Flazz BCA, “Semangat Kolaborasi Menjadi Kunci”

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi memunculkan kebutuhan baru akan produk dan layanan perbankan yang lebih praktis dan nyaman. Karena itu, dibutuhkan inovasi-inovasi dengan tujuan menawarkan produk dan layanan yang berorientasi kepada kebutuhan nasabah. Dalam konteks ini, kolaborasi antar divisi yang terlibat dalam penciptaan produk dan layanan tentu sangat diperlukan.

FLAZZ1

Semangat seperti inilah yang dibentuk Divisi Pengembangan Produk Transaksi Perbankan BCA dan Divisi IT BCA saat menjalankan proyek Kartu Flazz BCA. Kolaborasi menghasilkan sinergi dan budaya kerja yang kondusif sehingga produk yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Nah, kali ini, kita berkesempatan untuk berdiskusi dengan Ferry Winarta (Chief Product Owner Flazz BCA) dan Monica Anggunadi (Product Owner) dari Divisi Pengembangan Produk Transaksi Perbankan BCA dan Yohanes Hardian serta Sofian Wignjadiputro dari Divisi IT BCA yang sekaligus sebagai “Scrum Master”. Mereka adalah beberapa sosok penting di balik keberhasilan Flazz BCA menjadi salah satu “uang elektronik” yang paling banyak digunakan di Indonesia.

Bagaimana Flazz BCA bisa berhasil seperti ini, bahkan saat ini Flazz BCA sudah digunakan di jalan tol?

Ferry, demikian pria yang sudah belasan tahun berkarya di BCA ini akrab disapa, mengatakan bahwa semua ini tidak bisa lepas dari dua hal. Pertama, kebijakan pemerintah yang mendukung. Kedua, sinergi dan soliditas tim internal BCA.

“Penggunaan Kartu Flazz mulai berkembang di tahun 2012 saat pemerintah DKI merekomendasikan uang elektronik sebagai alat pembayaran di busway (Trans Jakarta). Saya terlibat waktu itu, BCA diundang bersama bank-bank lain untuk berpartisipasi dalam mewujudkan cashless transaction di transportasi publik. Dilanjutkan dengan kereta api (commuter line) di tahun 2013 dan momentum terbesarnya adalah saat pemerintah mewajibkan penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol di akhir tahun 2017 lalu. Disini bisa kita lihat dukungan kebijakan pemerintah sangat berperan dalam memajukan penggunaan uang elektronik, dalam hal ini Kartu Flazz.”

Ia menambahkan, dalam mengikuti program-program pemerintah itu BCA harus melakukan berbagai development, testing dan persiapan dalam waktu singkat. Keberhasilan tersebut tak akan mungkin bisa terealisasi tanpa dukungan divisi-divisi yang terlibat. Salah satunya kolaborasi bersama Divisi IT.

 “Kita punya IT yang oke. Cepat, canggih, dan mengerti kondisi pasar. Mereka mendukung proyek Flazz BCA dari sisi teknologi dan back end.”

FLAZZ2

Ferry Winarta, “Keberhasilan Flazz BCA menjadi alat pembayaran elektronik di jalan tol tidak bisa lepas
dari kebijakan pemerintah yang mendukung dan soliditas tim internal BCA,”

Keberhasilan Flazz BCA tak mungkin terwujud tanpa budaya kerja yang baik antar divisi yang terlibat. Salah satunya adalah dengan penerapan Scrum. Buat kamu yang belum tahu, menurut Scrum Master BCA, Yohanes Hardian, Scrum adalah pengerjaan proyek dengan membentuk tim yang terdiri dari anggota masing-masing divisi terkait, mulai dari IT, prosedur, testing, product owner, dan divisi pendukung lainnya.

“Bisa dikatakan ini adalah sekumpulan orang dengan tujuan dan spirit sama, tapi terdiri dari keahlian, talenta, dan kapabilitas yang berbeda-beda. Untuk bersama-sama berkolaborasi menyukseskan sebuah proyek, dalam konteks Flazz termasuk mengembangkannya, berinovasi, evaluasi sampai mencari solusi,” Ujar Yohanes.

Jadi apa perbedaan signifikan dan paling dirasakan tim Flazz saat sebelum dan setelah menerapkan Scrum?

Monica, sosok yang terlibat pengembangan Flazz BCA dari pertama proyek ini bergulir (2008) menjelaskan bahwa metode Scrum sangat membantu dalam menumbuhkan semangat kolaborasi. Rasa memiliki terhadap proyek meningkat karena ada jadwal rutin meeting yang telah disepakati. Setiap individu atau divisi bersinergi dan punya spirit dan komitmen yang sama.

Monica mengungkapkan, di awal penggunaan Scrum memang membutuhkan waktu untuk anggota tim menyesuaikan dengan cara kerja baru. Namun berkat dukungan para stakeholders dan semua anggota tim, serta peran terutama Yohannes yang waktu itu menjadi Scrum Master di tim Flazz, perlahan seluruh anggota tim dapat mengikuti ritme kerja Scrum dengan baik. Bahkan untuk kegiatan rutin di proyek pengembangan Flazz, masing-masing anggota tim sudah memahami tugas dan tanggung jawabnya.

“Mungkin terdengar biasa, cuma ketemu rutin seminggu sekali. Tapi manfaatnya sangat terasa. Kita gak usah set-set meeting lagi dan khawatir ada yang gak datang. Kita booking ruangan langsung untuk setahun, tiap hari Selasa. Setelah pertemuan mingguan ini berjalan rutin, sesuai prinsip Scrum, kita tingkatkan lagi intensitasnya menjadi daily meeting. Tentunya berat, apalagi di tengah kesibukan kita. Karena itu diperlukan komitmen dari para anggota tim. Manfaatnya luar biasa. Dan yang tak kalah penting, sinergi pun lebih terasa, karena hubungan yang semakin erat dan sudah saling kenal baik satu sama lain. Walau terdiri dari divisi yang berbeda-beda, kita bisa berkolaborasi dan besinergi untuk menyukseskan proyek yang sedang dijalankan”

FLAZZ3

Monica Anggunadi, “Scrum terdiri dari orang-orang yang berasal dari divisi berbeda,
berkolaborasi dan bersinergi untuk menyukseskan proyek yang sedang dijalankan,”

Tak lupa Ferry menambahkan. Selain spirit kolaborasi, Scrum juga memungkinkan terjadinya sharing knowledge antar divisi atau biro sehingga setiap orang lebih insightful.

Menurut kalian seberapa signifikan pengaruh Scrum terhadap produktivitas kinerja sebuah tim?

Yohanes bersama rekannya sesama Scrum Master, Sofian Wignjadiputro, menjelaskan bahwa BCA punya budaya kerja yang sangat baik. Team Engagement sudah terbangun antar karyawan. Karena itu, ketika Scrum masuk dan mulai diterapkan di Tim Flazz BCA, jadi relatif lebih mudah. Meski begitu, memang butuh waktu sampai manfaatnya dapat dirasakan.

“Hampir tak ada resistensi saat pertama diterapkan ke Tim Flazz BCA. Bahkan, tim ini justru yang meminta metode ini diterapkan. Tantangan paling besar saat metode ini mulai kami gunakan adalah terbatasnya pengetahuan. Jadi seperti coba-coba gitu. Tapi seiring berjalannya waktu, kami gali lebih dalam informasi terkait Scrum hingga mengikuti sertifikasinya. Kini, cukup terasa terhadap peningkatan produktivitas kerja. Meeting jadi lebih terarah, setiap orang bekerja sama mencari solusi saat menghadapi kendala, tepat waktu datang. Begitu. Paling terasa sih, engagement-nya,” Ujar Yohanes.

Sofian, yang saat ini berperan sebagai Scrum Master tim Flazz BCA membenarkan sekaligus memberi catatan tambahan. Scrum yang diterapkan di Tim Flazz BCA dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk membentuk tim yang lebih solid. Apalagi tim tersebut bergerak di produk teknologi digital yang perubahannya cepat. Scrum memungkinkan sebuah tim “tidak kejar-kejaran” dengan deadline ketat dan pekerjaan mendadak karena delivery pekerjaan dilakukan secara berkesinambungan, terukur, dan terarah.

FLAZZ4

Yohanes Hardian (Kiri) dan Sofian Wignjadiputro (Kanan)

“Masalah klasik sebuah tim biasanya komunikasi yang kurang lancar. Hal ini berpengaruh terhadap jalannya proyek yang dijalankan tim tersebut, gak terkecuali Tim Flazz BCA. Nah, seperti yang telah dijelaskan oleh Monica, kita fokus dulu terhadap bagaimana caranya setiap anggota tim bisa bertemu secara rutin. Weekly meeting, daily meeting, harus ketemu untuk menyampaikan apa pun progress atau kendala yang dihadapi. Bahkan saat sebuah proyek selesai pun, kita tetap bertemu. Tidak harus ngobrolin proyek, bisa sharing knowledge, atau diskusi ringan terkait pekerjaan dan kabar sehari-hari,”

***

Scrum mulai terapkan di Tim Flazz BCA sejak 2015 hingga sekarang. Manfaatnya sudah terbukti, membuat tim menjadi lebih engage dan produktif karena memiliki semangat kolaborasi, sehingga mampu menciptakan produk berkualitas dan sesuai kebutuhan zaman. Sebut saja di sini Flazz BCA yang mudah dan praktis digunakan untuk berbagai kebutuhan transaksi.

Penerapan Scrum juga membuktikan bahwa BCA sangat terbuka terhadap hal-hal baru.  Tidak hanya di bidang teknologi, tapi di bidang manajemen untuk menumbuhkan budaya kerja yang lebih baik. Keterbukaan seperti ini berimplikasi luas pada meningkatnya produkitivitas kerja, team engagement, serta tumbuhnya semangat kolaborasi. Sebab lingkungan kerja BCA yang kondusif, nyaman, & kekeluargaan mampu bersinergi dengan semua hal yang positif. Tak terkecuali Scrum yang kini sudah mulai banyak  diterapkan di setiap proyek internal BCA

Bagaimana setelah membaca cerita di atas? Kamu tertarik berkarir di BCA untuk menciptakan produk-produk inovatif seperti Flazz? Cek informasi lengkap terkait karir-karir yang ada di BCA pada tautan ini https://karir.bca.co.id/it/

Start Your Career @BCA Now

 
Masih pelajar dan ingin merasakan dunia kerja?
Ikuti program Magang Bakti BCA Di Sini

Lulusan Fresh graduate? Belum memiliki pengalaman kerja profesional?
Cari tahu informasi posisi yang cocok untuk Anda Di Sini

Punya ambisi dan impian untuk meraih sukses dan membutuhkan tantangan? Cari Tahu Di Sini

Hubungi Kami

Terima kasih atas kunjungan Anda pada situs BCA. 
Kami sangat menghargai komentar atau saran Anda agar kami dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.